Dampak Alih Fungsi Lahan Pertanian yang Tak Terelakan

alih fungsi lahan pertanian
" Punya rumah tapi makanan kurang atau Makanan berlimpah tapi gak punya rumah?".
Pilihan yang tidak asik untuk dipilih, tentu semua akan memilih alternatif ketiga, rumah mewah makan berlimpah, hanya saja pilihan ketiga bakal sulit ada jika melihat kenyataan yang terjadi saat ini.

Alih fungsi lahan pertanian, lahan pertanian yang produktif menjadi (seperti gambar terlampir) perumahan. Bukan hanya untuk perumahan, disaat tulisan ini dibuat di Nganjuk sedang dibangun pabrik tekstil ( bagaimana penanganan limbahnya ya?) dan sedang ada pembangunan jalan tol yang semuanya membuat ratusan hektar lahan pertanian yang produktif menghilang.

Ambil contoh gambar diatas, sebuah desa yang jauh dari pusat kota, 10 km dari ibukota Kabupaten. sebuah perumahan seluas 1 ha siap dikembangkan, jika ternyata laku bukan tidak mungkin pemilik lahan didekatnya, yang sekarang masih ditanami padi juga beergairah menjual sawahnya untuk dijadikan perumahan juga. Soalnya hidup dari pertanian masih bukan pilihan yang menarik, tidak menarik secara ekonomi dan gengsi :(, jika terus dibiarkan pasokan beras nasional bisa terpengaruh (tentu akan diatasi dengan impor) atau setidaknya banyak orang yang tidak lagi bisa menikmati betapa pulennya nasi  hasil petani Nganjuk.

Laju penurunan lahan pertanian sebanyak 27 ribu hektar pertahun harusnya bisa diperlambat dengan memperketat izin alih fungsi lahan pertanian dan tentu saja petani harus bisa hidup sejahtera dari hasil bertani.

Terus, bagaimana dengan kebutuhan tempat tinggal???hmm, aduh jangan tanya aku ya...


Advertisement
Dampak Alih Fungsi Lahan Pertanian yang Tak Terelakan